Oleh: Burhan | Desember 8, 2009

Tafsir Surat al-Baqarah: 34 tentang Sujudnya Malaikat kepada Adam

Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. 2: 34).

Ini merupakan kemuliaan terbesar dari Allah Subahanahu wata’ala bagi Adam yang juga dianugerahkan kepada anak keturunannya. Di mana Dia memberitahukan bahwa Dia telah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Adapun maksudnya, bahwa ketika Allah menyuruh para malaikat bersujud kepada Adam, maka iblis pun termasuk dalam perintah itu. Karena meskipun iblis bukan dari golongan malaikat, namun ia telah menyerupai mereka dan telah meniru tingkah laku mereka. Oleh karena itu, iblis termasuk dalam perintah yang ditujukan kepada para malaikat, dan tercela atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap perintah-Nya.
Ibnu Jarir, meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, katanya: “Iblis itu bukan golongan dari malaikat. Iblis adalah bangsa jin, sebagaimana Adam adalah asli bangsa manusia”. Dan isnad riwayat ini shahih dari al-Hasan al-Bashri.

Hal yang sama juga dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Mengenai firman-Nya: ”Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, bersujudlah kepada Adam”, Qatadah mengatakan: ”Ketaatan itu untuk Allah sedangkan sujud ditujukan untuk Adam. Allah memuliakan Adam dengan menyuruh para malaikat bersujud kepada-Nya.

Sebagian orang mengatakan: ”Sujud tersebut adalah penghormatan, penghargaan, dan pemuliaan. Sebagaimana firman-Nya:
”Dan ia (Yusuf) menaikkan kedua orangtuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud”.

Hal itu merupakan syari’at umat-umat terdahulu (sebelum umat Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wasallam). Namun cara memuliakan seperti itu dihapus dalam agama kita. Muadz pernah bercerita, aku pernah datang ke Syam, setibanya di sana aku menyaksikan mereka bersujud kepada para pendeta dan pemuka agama mereka. Lalu kukatakan: ”Engkau, ya Rasulullah, lebih berhak untuk dijadikan tempat bersujud”. Maka beliau pun bersabda:
”Tidak, seandainya aku dibolehkan memerintah manusia untuk bersujud kepada seseorang, maka aku akan menyuruh seorang isteri untuk bersujud kepada suaminya, karena keagungan haknya atas (isterinya)”. (HR. Abu Dawud, al-Hakim, at-Tirmidzi, dengan sanad hasan).

Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penyusun: Dr.Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq alu Syaikh, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal.107-108


Responses

  1. pembahasan yg menarik dan mendalam.
    Link tafsir Ibn Katsir online :
    http://www.pesantrenku.co.tv


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: