Oleh: Burhan | Juni 14, 2009

Menkeu: Indonesia Korban Lembaga Rating Internasional

Liputan6.com, Bali: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia selama ini menjadi korban dari lembaga rating internasional. Ini disebabkan ketidakmauan mereka memahami Indonesia saat ini sehingga membuat bunga surat utang Indonesia tinggi.

“Kami telah dirating banyak lembaga rating, tapi tetap saja rating kita masih rendah. Sedangkan Eropa yang perekonomiannya lebih buruk, malah mendapatkan rating yang lebih baik,” kata Menkeu di hadapan para peserta Seminar Internasional ke-7 Bank Indonesia di Bali, Sabtu (13/6) siang, seperti dikutip ANTARA. “Kenapa mereka mendapatkan rating triple A, sedangkan kami masih rendah, apakah karena kami tidak bisa berbahasa Inggris.”

Menkeu mengatakan, persepsi salah dari para lembaga rating membuat Indonesia dinilai beresiko sehingga harus membayar bunga tinggi setiap kali mengeluarkan surat utang di pasar. Sebab, ini bisa membebani anggaran. Surat Utang global Indonesia saat ini berada di kisaran 10 hingga 12 persen yang dinilai beberapa pengamat mahal.

Ia menjelaskan, lembaga rating selama ini melihat Indonesia seperti zaman orde baru yang dinilai tidak tranparan. Padahal, kata Menkeu, saat ini, Indonesia telah berubah. Bahkan, untuk Anggaran Belanja dan Negara saat ini detailnya dapat diakses melalui situs Departemen Keuangan.

Menkeu mengatakan, ketika berhadapan dengan para lembaga rating tersebut, pihaknya telah memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan. Namun, masih saja dicari hal yang menyudutkan. “Ketika bertemu S&P mereka tanya gimana APBN nya kita jelaskan, dicari lagi gimana anggaran di daerah, APBD-nya. Jadi, masih ada persepsi seolah-olah kita tidak transparan,” ucap Menkeu. “Mungkin Indonesia 10 tahun lalu tidak transparan, sekarang bisa dilihat, lebih terbuka, diaudit oleh banyak lembaga, kita dihukum oleh persepsi.”

Karena itu, Menkeu menantang para lembaga rating tersebut datang ke Tanah Air guna melihat secara langsung dan mengetahui serta memahami perekonomian Indonesia saat ini. “Saya tantang semua lembaga rating datang ke Indonesia dan melihat kita,” ucap Menkeu Sri.

Apalagi, nilai Menkeu Sri, selama ini lembaga rating tidak adil. Sebab, meski dampak dari rating tersebut dirasakan, ketika lembaga rating melakukan kesalahan dalam merating, tak memiliki konsekuensi. Seperti yang terjadi saat krisis dimana rating AAA diberikan kepada lembaga-lembaga yang pada akhirnya bangkrut, seperti Lehman Brothers. “Mereka tak menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut,” ujar Menkeu.

Jacob A Fenkel, Ketua Group 30, ketika berbicara pada acara tersebut juga menyatakan hal serupa. Menurut ia, saat ini tidak bisa menyerahkan keputusan ekonomi kepada lembaga-lembaga rating. Untuk itu, perlu ada reformasi dalam soal rating. “Rating tetap perlu untuk mengukur, namun sistem merating saat ini perlu diperbaiki,” kata Jacob.

http://www.id.yahoo.com  14 June 2009

Hikmah:

Sudah saatnya Kita tidak selalu menganggap apa yang datangnya dari Negara Barat adalah baik dan benar serta modern, tetapi perlu diteliti dahulu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: