Oleh: Burhan | Juni 10, 2009

Laboratorium Gas Metan Pertama Di Indonesia Beroperasi

Lab Gas Metan

Lab Gas Metan

Malang (ANTARA) – Laboratorium penangkap gas metan pertama di Indonesia yang berlokasi di tempat pembuangan akhir (TPA) Supiturang Kota Malang, Jawa Timur, yang dibangun atas kerjasama segitiga antara Pemkot, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan BGP Engineering Belanda, mulai dioperasikan.

Menurut Direktur Pusat Kajian Energi, Lingkungan dan Pembangunan Daerah UMM, Prof. Laode Kamaludin, Rabu, alat beserta instalasi yang telah terbangun itu murni dana hibah dari BGP engineering Belanda sebesar Rp1 miliar.

Ia mengemukakan, laboratorium penangkap gas metan di TPA Supiturang tersebut menggunakan teknologi tinggi yang dilengkapi solar sel dan komputer yang tersambung langsung ke internet

Komputer tersebut, katanya, mampu merekam banyaknya gas metan yang telah terbakar dan data-data itu secara otomatis langsung ditransfer ke “reciever” UMM dan BGP engineer Belanda.

Ia mengakui, gas metan yang ditangkap melalui alat penangkap gas metan (flaring) dibakar dan menghasilkan CO2 yang mampu mencegah kerusakan alam dan pemanasan global.

“Gas metan ini merupakan salah satu gas yang berbahaya yang memiliki daya rusak 21 kali lipat ketimbang CO2. Gas metan ini mampu merusak lapisan ozon sehingga harus diamankan,” katanya menambahkan.

Pembangunan laboratorium gas metan di TPA Supiturang tersebut dimulai awal November 2008 dan menurut rencana akan dikembangkan untuk pengolahan gas metan secara komersial, karena gas metan yang berhasil ditangkap mampu menghasilkan energi listrik.

Hasil penelitian yang dilakukan tim dari Unmuh Malang bersama Belanda beberapa waktu lalu disebutkan, potensi gas metan yang dikelola melalui TPA Supiturang di Kota Malang, rata-rata mencapai 118,3 juta meter kubik per tahun untuk lahan seluas 5 hektare.

Harga jual gas metan rata-rata sebesar 18 dolar AS per ton dan areal lahan TPA Supiturang mencapai 12 hektare. Jika limbah sampah di TPA Supiturang tersebut diolah seluruhnya, pendapatan dari kerjasama pengelolaan itu akan menjadi dua kali lipat.

Selain menghasilkan gas metan sebanyak 118,3 juta meter kubik per lima hektare, TPA Supiturang juga mampu menghasilkan energi listrik minimal 5,6 juta Kwh per tahun dari volume sampah yang dibuang ke TPA rata-rata 700 sampai 800 meter kubik per hari dari 75 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di daerah itu.

Antara 10 June 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: